Diri Kita di posisikan oleh diri kita sendiri
#CATATANKU
DIRI KITA DIPOSISIKAN OLEH DIRI KITA SENDIRI.
Kita bertempat di daerah mana, harus tahu "menempatkan" diri.
Kita sadari, setiap anak akan tumbuh, lalu menjadi dewasa. Ada saat anak akan berpisah dari orang tua, entah sekolah, tugas atau bekerja. Biarkanlah itu, semua proses pendewasaan, proses kemandirian.
Tugas orang tua adalah mempersiapkan anaknya agar bila saatnya anak jauh dari mereka, anak menjadi pribadi yang "siap".
Siap artinya secara fisik dan mental.
Fisik : Contohnya bisa mengurus dirinya sendiri, bisa menjaga diri, bisa mengerjakan hal-hal yang diperlukan untuk menunjang kehidupannya, bisa bergaul yang baik.
Mental : Contohnya akhlaknya baik, kepahaman agama, sopan-santun, kemandirian mental, kekuatan mental, trampil bicara, dll.
Pada zaman sekarang, orang tua itu kebanyakan "sangat sayang" dengan anak mereka. Hingga anak "terbiasa" serba dilayani dan tersedia. Anak "terbiasa" serba disanjung dan dibela.
Heemz... Pasti banyak yang alesan : nggak lah... Biasa aja, wajarlah.. Sayang anak, anak saya emang hebat dll.
Ya, anak sendiri memang paling hebat.
Namun sadarlah ya Pak/Bu, anak juga perlu dididik untuk bisa "mandiri". Nggak salah lho mengajari masak, nyuci, jualan, nukang dll. Cewek atau cowok sama saja, bukan berarti cewek lalu nggak boleh pegang gergaji dan sejenisnya (kalau saya malah suka itu ). Atau jangan ragu ngajarin putranya masak, hebat lho cowok bisa masak (cowok pinter masak itu...sesuatu dech).
Jangan merasa bersalah meminta anak dagang/belajar jualan, bagus itu, siapa tahu Allah paring jadi pemilik perusahaan bonafit nanti.
Dan memang, kadang perlu ketegasan mendidik kemandirian.
Tak apa, nanti anak akan belajar bertanggung jawab.
Jangan lupa jiwa anak2 nya.
Bekali kepahaman agama. Anak yang paham, inshaAllah bisa "membawa" dirinya dan "menjaga" dirinya dimanapun itu. Ajarkan kesopanan, mengagungkan dan bergaul yang baik. Beri arahan memilih teman dan lingkungan bergaul. Ingat Pak/Bu, teman bergaul dan lingkungan berpengaruh sangat besar pada anak. Anak yang "terlihat" baik, bisa jadi "rusak" bila salah bergaul. Pantau kegiatan anak, bukan memata-matai tapi memperhatikan.
Koreksi anak, selalu ajak anak terbuka akan masalahnya, selalu jaga komunikasi. Kewajiban orang tua menjaga anaknya.
Untuk generasiku, pemuda/pemudi yang cerdas dan pintar.
Ingatlah, kehidupanmu dan dirimu tetap tak bisa dipisahkan dari orangtua. Jagalah perilaku, akhlak, tingkah dan sopan-santun. Yang kalian lakukan, mau tak mau juga membawa nama orang tua. Ingatlah untuk menjaga nama baik orang tua, walaupun misalnya ada orang tuanya (maaf) kelakuannya buruk, justru karena itu tugas kalian "memperbaiki" citra orang tua.
Jadilah generasi yang baik dalam semua hal. Baik tak berarti harus hebat dalam pencapaian prestasi, tapi dirimu dan pribadimu, jaga agar tak menimbulkan "penilaian" buruk lingkunganmu.
Bila berpisah dari orang tua, jadilah pribadi tangguh dan tahan uji. Pandai-pandailah bergaul, tempatkan diri pada posisi yang baik dan mulia dengan perbuatan yang manfaat.
Bila bertempat di suatu daerah, hormati adat dan kebiasaan disitu dan tetap menjaga pada "jalur" yang diridhai Allah.
Hormati orang2 yang dituakan seperti pada semestinya, jaga hati yang sebaya dan baiklah pada yang lebih muda.
Bila bertempat di suatu keluarga, artinya sudah sebagai "anggota" keluarga mereka.
Jaga kepercayaan mereka.
Anggap sama dengan orang tua, jadi semua tahu aturannya. Misalnya, pergi ya harus ijin, ada masalah bicara yang baik, bantulah kerepotannya dan hormati mereka.
Kepercayaan itu sangat berharga, bila dirusak, tak akan pernah kembali seperti semula.
Jaga kejujuran.
Kejujuranmu adalah "harga" kemuliaanmu.
Itulah mengapa dinasehatkan untuk menjaga PAPAN, EMPAN, ADEPAN.
KEHORMATAN KITA SESUAI DENGAN BAGAIMANA PENGHARGAAN KITA PADA ORANG LAIN.
Semoga manfaat barokah.
Aamiin
Komentar
Posting Komentar